Kebersamaan yang aneh

28 07 2008

Kebersamaan…

Kata kata ini bisa berarti dan berkonotasi banyak. Ada yang bermakna indahnya kebersamaan dalam keluarga, ada kuatnya kebersamaan dalam tim kerja, ada kebersamaan dalam persaudaraan, ada kebersamaan-kebersamaan lainnya.

Ingatkah waktu masa-masa ospek sma dan kuliah, kata-kata ini muncul lagi dalam makna yang berbeda. Kebersamaan sebagai sebuah angkatan. Seringkali muncul dalam pertanyaan-pertanyaan seperti berapa kalian? atau teman kalian gagal, mana kebersamaan kalian?

Ketika ditanya berapa kalian maka kita menjawab sewajarnya, yaitu sejumlah peserta yang hadir. Dalam hal ini ada penekanan untuk merasa satu padu, sehingga seharusnya dijawab SATU!. Pada metode seperti ini dapat dicapai kebersamaan dalam makna merasakan sahabat se-angkatan sebagai satu tubuh, yang satunya merasa sakit ketika yang lain disakiti seperti halnya tubuh yang akan demam ketika kaki tertusuk duri, dsb. Kebersamaan yang sejenis ini menurut saya tidak salah dan tentu saja tidak aneh.

Ketika ditanya teman kalian melakukan kesalahan, mana kebersamaan kalian? Seringkali kita kebingungan menjawab, pada tahap awal kita mungkin merasa itu memang kesalahan mereka dan biarlah mereka saja menerima akibat dari pilihan hidup mereka. Di akhir biasanya kita akan memahami bahwa kita pun bertanggung jawab atas kegagalan teman kita itu. Namun, sebagai akibat dari merasa bersalah itu bisa terdapat dua macam pemikiran:

1. Merasa bersalah sehingga di kesempatan berikutnya terdapat saling membantu yang luar biasa diantara kita dan ini dijadikan bahan pembelaan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai satu tubuh. Ya jika pada tubuh maka ketika tertusuk duri, otak akan memerintahkan tangan untuk mencabut duri dan mengobati, tangan akan bergerak mencabut duri dan memberi obat, sehingga tidak sekedar merasa demam, tapi berusaha mengobati-otak dan tangan membantu kaki yang tertusuk (sekaligus tubuh yang demam) sehingga menjadi sehat kembali. Ini adalah akibat yang diharapkan muncul dalam kosepsi kebersamaan kita

2. Merasa bersalah sehingga pada kesempatan berikutnya ketika ada teman yang gagal kita akan berpikiran untuk turut gagal sebagai pernyataan senasib sepenanggungan seangkatan. Ini adalah pemikiran yang berbahaya dan sesat. Bayangkan pada analogi tubuh, ketika kaki tertusuk duri maka tangan akan menusukkan diri ke duri sebagai pernyataan senasib..Bukankah ini luar biasa salah? Dalam analogi lain, kita sebagai seangkatan dalam himpunan mahasiswa, ketika ada teman-teman kita yang kesulitan dalam akademis dan mendapat nilai buruk, maka apakah kita akan turut menerpurukkan nilai kita dengan harapan teman tersebut akan terhibur? Dalam analogi yang lebih luas, ketika Indonesia terpuruk dan di dalamnya ada orang yang terhimpit ekonominya, maka apakah sebagai orang sebangsa kita akan turut menerpurukkan diri sebagai wujud empati? Bukankah ini kebersamaan yang ANEH

Pemikiran itu mungkin terlihat sederhana dan kecil, tapi jangan sekali-kali menganggap enteng akibat yang dibawa dari pemikiran itu sendiri. Karena ia seperti garis yang melenceng satu derajat, di jarak 1 meter, ia tak begiitu tampak, tapi pada jarak 100 meter ia akan tampak jelas sebagai melencengnya suatu nilai.

Jadi, lihat, dengar, rasakan, kritisi, dan bertindak. Selamatkan Indonesia dengan hal-hal kecil di sekitar kita.


Actions

Information

One response

28 07 2008
Fuad Fajri

beuh,
cadas banget rof.
yang kemaren langsung di post di sini gitu..
mantap juragan..
^^

Leave a comment