Hari ini training networking untuk adik-adik elektro 2007. Kegiatan dimulai dari pagi hari. Dengan penuh semangat kami, panitia menjalankan kegiatan ini. Semua berlangsung cukup baik hingga siang hari ketika saya mendapati sepeda biru di tempat parkir labtek 8 kempes habis ban belakangnya. Sepeda itu bukan sepeda biasa karena sepeda itu sepeda saya.
Sepeda merupakan moda transportasi utama saya. Hampir setiap hari sepeda itu saya kayuh menuju “medan perjuangan”. Dan sepeda ini telah menjadi anugrah tersendiri bagi saya.
Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata ban belakangnya berlubang karena sudah tipis, memang salah saya juga seringkali mengerem hinggga ban belakang ini terseret “ngesot”.
Sekarang, tanpa sepeda, semuanya lebih “menantang”, kemana mana jalan kaki. Hal ini cukuplah membuat saya menyadari pentingnya sepeda dalam keseharian saya selama ini.
Kejadian ini membawa saya pada konsepsi yang lebih besar. Saya mengetahui bahwa sepeda merupakan anugrah. Saya pun menyadari bahwa rusaknya sepeda karena perlakuan saya. Saya menyadari bahwa saya cukup merasa kehilangan. Dalam hidup, kita memiliki banyak anugrah dan nikmat-seperti sepeda ini. Tetapi jangan-jangan kita seringkali secara sadar merusaknya, menghilangkannya, menyiakannya. Katakanlah nkmat waktu luang-seberapa besarkah kita manfaatkan, nikmat sehat-sesering apakah kita sadar bahwa ini kenikmatan, nikmat berjalan, nkmat bersepeda, dan nikmat-nikmat yang lain. Ketika kita kehilangan sebuah nikmat, barulah kita menyadari makna-makna eksistensial dari suatu kenikmatan, kita menyadari sesuatu penting ketika sesuatu itu sudah tak lagi ada.
Maka cukuplah sepeda ini setitik dalam hidup kita yang selalu mengingatkan untuk sadar akan nikmat yang ada serta mensyukurinya dengan menjaga dan memanfaatkan.
Karena itulah sepeda ini bukan sepeda biasa, iapun dengan terbuka berbagi dan memberi arti…

COMMENTS!!!