Alkisah..
saya tersangkut di sebuah video dari rangkaian videonya MIT: Video kuliah dari Morris Chang, sang pendiri TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company). TSMC ini adalah salah satu Semiconductor Foundry (Fabrikasi IC/Semikonduktor) terbesar di dunia, well mungkin yang terbesar. Website kuliah tersebut bisa diakses disini.
Tulisan ini merangkumkan kuliah dari Morris Chang tersebut. Kuliahnya berjudul “Innovation and Business Model Innovation”.Ada dua hal utama yang dibahas yaitu Innovation (selanjutnya inovasi) dan Business Model Innovation.
Tentang Inovasi.
Inovasi dia artikan sebagai ide-ide baru yang diterapkan. Disini dia menekankan pada penerapan. Ide-ide saja tanpa penerapan dan aplikasi bukanlah inovasi-tidak akan memberi efek bagi bisnis.
Kemudian, fakta lainnya tentang inovasi yang dikemukakan adalah inovasi bisa kecil maupun besar. Inovasi besar tentu akan langsug berdampak besar pula, namun jangan pernah menyepelekan inovasi-inovasi kecil. Inovasi-inovasi kecil ini sangat mungkin memberi efek yang baik secara berkesinambungan.
Terakhir dan cukup unik, inovasi seringkali gagal. Ya, inovasi atau penerapan ide-ide baru seringkali tidak menghasilkan dampak seperti yang diharapkan.
Morris Chang yang dalan perjalanan mencapai suksesnya saja mengakui bahwa inovasi seringkali gagal, jadi jangan khawatir untuk mencoba!
Budaya mendukung inovasi
Dalam perusahaan, penting untuk membangun budaya yang mendukung inovasi. Budaya seperti apakah itu?
Pertama, “appreciate successful innovation”. Inovasi-inovasi yang berhasil atau dianggap berhasil haruslah dihargai dengan baik. Inovasi yang berhasil ini haruslah diaperlakukan sebagai pencapaian yang luar biasa.
Kedua, “do not punish failing innovation”. Jangan pernah menghukum inovasi-inovasi yang gagal, mengapa?
Karena pada hakikatnya, inovasi yang gagal ini telah menjalani hukumannya melalui hilangnya waktu dan sumber daya.
Jangan membuang energi untuk sesuatu yang tidak perlu. Jangan menghancurkan sesuatu yang sudah terpuruk.
Yang menarik, karena isu waktu ini pula,
dalam hal inovasi anak muda seringkali lebih baik daripada orangtua.. hanya karena anak muda umumnya punya lebih banyak waktu untuk dipertaruhkan
![]()
Beralih ke business model innovation.
Business model innovation bisa juga diartikan sebagai inovasi dalam kerangka model bisnis. Kita akan tetap menggunakan business model innovation untuk menghindari kerancuan istilah.
Baiklah, pertama apa itu business model?
It is the way a company conducts affairs with its customers and suppliers or simply how to make money! Jadi business model adalah skema sebuah perusahaan menjalankan bisnis kepada konsumen dan supplier-nya. Penekanan yang menarik disini, jalan untuk menghasilkan uang (how to make money) tidak lagi terfokus pada barang/produk maupun jasa/servis tapi pada bagaimana perusahaan menjalankan usaha (way of conducts). Ini bisa kita saksikan dari kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan yang merangkuh keuntungan paling besar seringkali bukanlah perusahaan yang paling maju teknologinya, melainkan perusahaan yang berinovasi pada cara berbisnisnya. Kita lihat di bagian berikutnya.
Selanjutnya, business model innovation.
Perusahaan-perusahaan konvensional yang telah lama berdiri pada umumnya memiliki business model yang mirip. Sebagai contoh perusahaan-perusahaan otomotif memiliki business model yang serupa, dari riset, manufaktur, promosi, sampai penjualan. Di sisi lain, kita lihat Dell pada awal masa berdirinya. Dell maju dengan melakukan business model innovation dari kebanyakan produsen PC pada saat itu. Dell menawarkan fully customized PC, atau yang sekarang kita kenal dengan istilah “PC rakitan”. Konsep baru ini diterima secara luas oleh masyarakat dan keuntungan perusahaan pun berlipat. Contoh lainnya adalah low-fare airlines (maskapain berharga murah). Maskapai ini sangat maju dengan mendobrak business model maskapai pada umumnya yang menjual rangkaian penerbangan sebagai satu paket yang telah tetap harganya. Maskapai berharga rendah memberi konsumennya kebebasan untuk memilih produk dan jasa dalam sebuah penerbangan. Dengan konsep ini, maskapai tersebut terbukti berhasil menjaring pasar baru diantara maskapai-maskapai konvensional.
Terakhir, tentang TSMC.
TSMC sendiri menerapkan business model innovation, walaupun pada saat itu istilah business model sendiri belum dikenal. Business model konvensional perusahaan-perusahaan semikonduktor pada saat itu adalah mendesain dan manufaktur IC kemudian menjualnya baik sebagai IC maupun sebagai produk siap pakai (elektronik). Perlu dipahami bahwa bisnis desain IC merupakan bisnis padat karya namun tidak padat modal sedangkan bisnis manufaktur IC adalah bisnis padat karya dan padat modal. Dengan business model konvensional, ini berarti modal yang besar dibutuhkan bagi perusahaan baru untuk masuk ke industri semikonduktor.
TSMC berdiri dengan menawarkan hanya jasa manufaktur IC saja, TSMC mendeklarasikan tidak akan pernah masuk bisnis desain IC untuk menghindari persaingan dengan konsumen.
Ya, TSMC membangun konsumen-konsumen baru berupa perusahaan-perusahaan desain IC saja atau fabrication-less(fabless) IC design company. Dengan konsep baru ini TSMC memperjuangkan eksistensinya selama berpuluhan tahun hingga akhirnya menjadi salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di dunia.
Fiuuh.. pelajaran hidup dari Morris Chang, TSMC.









